Lynx dan rombongannya tiba di tempat persembunyian Jelita. Wanita itu duduk bersandar pada pohon besar, tubuhnya terlihat lebih segar meskipun wajahnya masih memancarkan kelelahan. Ketika mendengar langkah kaki mendekat, Jelita segera menoleh dengan waspada. Matanya membesar sedikit saat melihat tiga orang pria bersama Lynx.

“Lynx...” panggilnya pelan, nada suaranya mengandung kekhawatiran. “Siapa mereka?”

Lynx mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Jelita tetap tenang. “Mereka bukan musuh, Jelita. Ini Darek, Ekar, dan Rafin. Aku bertemu mereka saat melarikan diri dari perkampungan perampok.”

Darek melangkah maju dengan sikap sopan. “Kau pasti Jelita. Aku mendengar banyak tentangmu dari Lynx. Senang bertemu denganmu.”

Darek, Rafin dan Ekar memandang sejenak Jelita. Mereka merasa geram melihat luka-luka yang sangat parah pada wajah dan tubuh jelita, namun mereka segera menunjukkan reaksi biasa agar Jelita tidak menyadari tatapan mereka.

Jelita tampak ragu sejenak, namun akhirnya mengangguk pelan. “Kalian temannya Lynx?”

“Kita punya tujuan yang sama, menyelamatkan para tahanan dari para perampok itu,” jawab Ekar sambil memegang tombaknya. “Kami telah lama memantau pergerakan para perampok. Dan sekarang kami bertemu Lynx, rasanya seperti kebetulan yang sempurna.”

Jelita menatap Lynx dengan cemas. “Apa kau yakin mereka bisa dipercaya?”

“Ya,” jawab Lynx singkat. “Mereka telah membantuku memahami apa yang sedang terjadi di perkampungan itu.”

Rafin maju sedikit, memberikan senyum meyakinkan. “Kami tidak akan menyakitimu, Jelita. Kami tahu apa yang perampok-perampok itu sudah lakukan terhadapmu, dan kami ingin kejadian serupa tidak lagi terjadi terhadap yang lainnya. Kami ingin menghentikannya.”

Melihat ketulusan di mata mereka, Jelita akhirnya mengangguk, meskipun wajahnya masih menyimpan sedikit keraguan. “Terima kasih karena kalian telah membantu kami.”

Darek tertawa kecil. “Harusnya kami yang berterima kasih padanya." Katanya sambil melirik Lynx. "Tapi, Jelita, kau berasal dari suku Yaksa, kan?”

“Iya,” jawab Jelita sambil melirik Lynx sejenak. “Kenapa?”

“Kami berasal dari suku Raksa, atau setidaknya bagian kecil darinya,” kata Darek santai.

Lynx mengerutkan dahi, menoleh cepat ke arah Darek. “Tunggu, kau bilang kau dari pecahan suku Raksa?”

“Ya,” jawab Darek dengan nada bingung. “Apa itu masalah?”

Lynx menggelengkan kepala, lalu tertawa kecil. “Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya terkejut. Aku baru saja membantu suku Raksa bersatu kembali. Mereka sekarang memiliki pemimpin baru, Raka. Aku kira sudah semua suku Raksa bersatu dan bergabung.”

Mata Darek melebar. “Raka? Aku mengenal nama itu! Dia dulunya adalah salah satu tetua yang paling dihormati di Raksa. Kau serius, Lynx? Suku Raksa sudah bersatu kembali?”

“Iya,” jawab Lynx dengan nada penuh keyakinan. “Mereka sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Mereka bahkan berencana bergabung dengan suku Uksa dan Sinto untuk melawan Monrest.”

Lynx lalu menceritakan kejadian mengenai pertandingan untuk memilih kepala suku, tentang Arkha, Rira dan beberapa orang yang dikenalnya. Lynx juga menceritakan mengenai jebakan suku Monrest untuk dapat menangkap suku Raksa namun berhasil di gagalkan oleh Karsan dengan mempersiapkan jalur pelarian untuk mereka.

Selain itu, Lynx juga menceritakan perjalanan mereka sebelum akhirnya Dia berpisah untuk menolong seseorang. Lynx sengaja tidak menceritakan tentang dirinya melawan Valgor karena dia tidak suka terlalu membanggakan diri. "Biarlah nanti mereka tahu sendiri." Kata Lynx didalam hati.

Ekar menjatuhkan tombaknya ke tanah dengan takjub. “Itu berita terbaik yang pernah aku dengar! Selama ini kami berpikir kami sendirian, terpecah-belah menyebar kemana-mana. Tapi jika Raksa sudah bersatu, itu berarti kita punya harapan!”

“Raka sebagai pemimpin...” gumam Rafin sambil tersenyum kecil. “Dia adalah orang yang sangat dihormati. Jika dia memimpin, aku yakin mereka akan berhasil.”

“Dan mereka juga berencana melawan Monrest?” tanya Darek dengan penuh semangat.

“Benar,” jawab Lynx tegas. “Mereka tidak hanya bersatu untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk menghadapi ancaman yang lebih besar.”

Jelita yang mendengarkan percakapan itu menatap Lynx dengan mata berbinar. “Kalau begitu, mungkin kita benar-benar punya peluang. Jika Raksa, Uksa, dan Sinto bisa bersatu, serta di tambah suku Yaksa, kita bisa melawan mereka.”

Lynx tersenyum kecil. “Tapi pertama-tama, kita harus menyelamatkan orang-orang yang ditangkap. Itu langkah awal sebelum kita bisa mengumpulkan kekuatan penuh.”

Darek mengangguk penuh semangat. “Kami akan membantumu, Lynx. Apa yang harus kita lakukan?”

“Pertama, kita harus memastikan Jelita tetap aman,” jawab Lynx. “Aku tidak ingin dia mengalami kejadian yang sama terulang lagi kepadanya. Setelah itu, kita pelajari lebih banyak tentang pergerakan perampok dan tahanan.”

“Aku setuju,” kata Rafin. “Apa pun yang bisa kami lakukan, katakan saja.”

Jelita yang mendengar Lynx sangat memperhatikannya, merasa sangat bahagia, namun dia semakin merasa rendah diri karena menyadari fisiknya yang tidak lagi seperti sebelumnya. "Semoga nenek Drona bisa menyembuhkanku." Batinnya.

Lynx merasakan sedikit perubahan pada ekspresi Jelita. Lynx memandangnya sekilas. "Dia wanita yang kuat, meski terluka, namun dia tetap fokus untuk menyelamatkan keluarganya."

Ekar mengangkat tombaknya lagi, wajahnya serius. “Kapan kita mulai?”

Lynx menatap mereka satu per satu. “Segera. Tapi kita tidak bisa gegabah. Kita akan mencari tahu lebih banyak sebelum mengambil tindakan.”

Darek, Ekar, dan Rafin mengangguk, sementara Jelita menatap Lynx dengan sorot penuh harapan. “Aku percaya padamu, Lynx. Bawalah mereka kembali.”

“Pasti,” jawab Lynx dengan penuh keyakinan.

Lynx segera mengalihkan perhatian ke Darek dan teman-temannya. “Pertama, kita pastikan Jelita tetap aman. Setelah itu, kita mulai menyusun rencana untuk menyelamatkan yang lain.”

Jelita melangkah mendekat. “Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tapi jika kalian berencana untuk menyelamatkan yang lain, aku ingin membantu.”

“Tidak,” potong Lynx dengan tegas. “Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Aku tidak akan membiarkanmu mengambil risiko yang tidak perlu.”

“Lynx benar,” tambah Rafin. “Kita tidak bisa mempertaruhkan nyawamu lagi. Kau sudah cukup menderita.”

Jelita membuka mulut untuk membantah, tapi akhirnya hanya mengangguk lemah. Ia tahu bahwa mereka benar, meskipun hatinya ingin berbuat lebih.

Lynx kembali mengatur strategi bersama Darek, Ekar, dan Rafin. Matahari mulai terbenam, memberikan mereka waktu untuk bergerak di bawah naungan malam. Lynx memimpin rombongan kecilnya ke arah perkampungan perampok, meninggalkan Jelita di tempat persembunyian yang aman, dengan janji bahwa mereka akan segera kembali membawa orang-orang yang ditawan.

Dalam perjalanan menuju perkampungan perampok, Darek melangkah lebih dekat ke arah Lynx, ekspresinya serius.

“Lynx, aku harus memberitahumu sesuatu,” katanya pelan, suaranya sedikit terputus oleh derap langkah mereka yang cepat.

“Apa itu?” tanya Lynx tanpa menghentikan langkahnya, meskipun matanya tetap waspada terhadap sekeliling.

“Kau ingat ketika kita pertama kali bertemu? Kami bilang kami menemukan jalan rahasia yang sepertinya bekas jalan lama perampok.”

Lynx mengangguk. “Ya, aku ingat. Tapi waktu itu kita tidak tahu apa fungsinya, kan?”

“Benar,” lanjut Darek. “Tapi saat kami mencari cara untuk menolongmu waktu kau ditangkap, kami menemukan lorong rahasia lainnya yang menuju ke dalam perkampungan. Kami sudah memeriksanya.”

“Lorong rahasia lain?” Lynx menoleh dengan tatapan penuh perhatian. “Apa kau yakin? Bagaimana kalian menemukannya?”

Ekar, yang berjalan di belakang mereka, maju ke depan untuk menjelaskan. “Aku yang menemukannya,” katanya dengan nada rendah tapi tegas. “Kami sedang mempelajari area sekitar perkampungan, berharap menemukan celah untuk masuk. Saat itu, aku melihat pintu kayu kecil yang tertutup semak-semak.”

“Dan kau masuk?” tanya Lynx, alisnya terangkat sedikit.

Ekar mengangguk dengan mantap. “Ya. Aku memeriksanya, dan ternyata itu adalah lorong sempit yang tampaknya tidak digunakan lagi. Aku menyusuri lorong itu sejauh mungkin, dan akhirnya... aku menemukan diriku berada di dalam salah satu bangunan di perkampungan mereka.”

“Itu tembus ke mana?” tanya Lynx dengan cepat.

“Bangunan yang aku masuki terlihat seperti gudang tua,” jawab Ekar. “Tapi itu tidak dijaga. Sepertinya mereka mengabaikan tempat itu karena menganggapnya tidak penting.”

Rafin, yang mendengarkan dengan penuh perhatian, menambahkan, “Kami pikir lorong itu dulunya digunakan sebagai jalan darurat untuk perampok melarikan diri, tapi sekarang sepertinya mereka tidak menyadari kalau itu masih ada.”

